Translate

Cari Postingan

Kamis, 17 Desember 2020

Mengenal Rumah Adat Joglo Suku Jawa dan Makna Arsitekturnya

 Sumber : Tirto.id


Ilustrasi Rumah Joglo. foto/IStockphoto
Oleh: Versatile Holiday Lado - 20 Januari 2021
Dibaca Normal 2 menit

tirto.id - Rumah Adat Joglo merupakan salah satu jenis rumah tradisional suku Jawa yang menjadi cermin nilai budaya yang masih amat jelas nampak dalam perwujudan bentuk, struktur, tata ruang dan ragam hiasnya.

Rumah Adat Jawa ini bukan sekedar hunian. Orang Jawa umumnya memandang Joglo sebagai mahakarya arsitektur tradisional Jawa dan menganggapnya sakral di Jawa.

Dikutip dari jurnal MUDRA oleh Slamet Subiyantoro yang berjudul "The Interpretation of Joglo Building House Art in the Javanese Culture Tradition", bangunan tradisional Jawa merupakan tempat kegiatan dan kehidupan penguasa atau rata.

Apa yang terwujud dalam bangunan tidak lain adalah simbol yang merepresentasikan prespektif penduduknya.

Selain itu, nilai estetika juga terwujud dalam bangunan Joglo di mana merupakan perwujudan Arsitektur Jawa yang paling ideal dan sempurna.
Pada dasarnya bangunan Joglo berdenah persegi empat dan cenderung hampir bujur sangkar serta hanya memilki empat tiang atau pilar utama yang masing-masing mewakili arah angin, barat-utara-selatan-timur.

Rabu, 16 Desember 2020

Rumah Tambi (Sulawesi Tengah)

Sumber : Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Rumah Tambi
 adalah rumah adat atau rumah tradisional dari provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Rumah adat ini berbentuk panggung yang atapnya sekaligus berguna sebagai dinding. Rumah Tambi merupakan rumah bagi suku Kaili dan suku Lore yang umumnya merupakan rumah penduduk setempat serta beberapa wilayah di Sulawesi Tengah menjadikan rumah ini sebagai rumah bagi kepala adat.[1] Yang membedakannya adalah jumlah anak tangga untuk menaiki rumah, di mana rumah Tambi yang digunakan sebagai rumah kepala adat jumlah anak tangganya ganjil, sedangkan untuk penduduk biasa anak tangganya berjumlah genap. Alas rumahnya terdiri dari balok-balok yang disusun, sedangkan pondasinya terdiri dari batu alam. Tangga untuk naik tersebut terbuat dari daun rumbia atau daun bambu yang dibelah dua.[2]

Senin, 14 Desember 2020

Alat Musik Kolintang


Kolintang atau Kulintang  merupakan alat musik tradisional khas Minahasa. kulintang adalah alat musik Berbahan dasar kayu, namun jika dipukul akan menghasilkan bunyi-bunyi yang nyaring dan merdu. Bunyi yang dihasilkan dapat mencapai nada-nada tinggi maupun rendah. Jenis kayu yang digunakan untuk membuat kolintang adalah kayu telur, bandaran, wenang, kakinik atau jenis kayu lain yang ringan tetapi bertekstur padat dan serat kayunya tersusun rapi membentuk garis-garis horizontal. yang terdiri dari barisan gong kecil yang diletakkan mendatar. Alat musik ini dimainkan dengan diiringi oleh gong tergantung yang lebih besar dan drum. Kolintang merupakan bagian dari budaya gong Asia Tenggara, yang telah dimainkan selama berabad-abad di Kepulauan Melayu Timur - Filipina, Indonesia Timur, Malaysia Timur, Brunei, dan Timor.[6] Alat musik ini berkembang dari tradisi pemberian isyarat sederhana menjadi bentuk seperti sekarang.[5] Kegunaannya bergantung pada peradaban yang menggunakannya. Dengan pengaruh dari Hindu, Buddha, Islam, Kristen, dan Barat, Kulintang merupakan tradisi gong yang terus berkembang. 

Di Indonesia, Kolintang dikenal sebagai alat musik perkusi bernada dari kayu yang berasal dari daerah Minahasa Sulawesi Utara. Kayu yang dipakai untuk membuat Kolintang adalah kayu lokal yang ringan namun kuat seperti kayu Telur (Alstonia sp),kayu Wenuang (Octomeles Sumatrana Miq),kayu Cempaka (Elmerrillia Tsiampaca),kayu Waru (Hibiscus Tiliaceus), dan sejenisnya yang mempunyai konstruksi serat paralel. Nama kolintang berasal dari suaranya: tong (nada rendah), ting (nada tinggi) dan tang (nada biasa). Dalam bahasa daerah, ajakan "Mari kita lakukan TONG TING TANG" adalah: " Mangemo kumolintang". Ajakan tersebut akhirnya berubah menjadi kata kolintang.

Kata “kolintang” berasal dari bunyi “tong” untuk nada rendah, “ting” untuk nada tinggi, dan “tang” untuk nada tengah. Dahulu, orang Minahasa biasanya mengajak bermain kolintang dengan mengatakan "Mari kita ber Tong Ting Tang" atau dalam bahasa daerah Minahasa "Maimo Kumolintang". Dari kebiasaan itulah muncul istilah "kolintang”.

Alat musik kolintang pada awalnya hanya terdiri dari beberapa potong kayu yang diletakkan berjejer di atas kedua kaki pemainnya yang duduk di tanah, dengan posisi kedua kaki lurus ke depan. Dari waktu ke waktu, penggunaan kaki pemain diganti dengan dua batang pisang. Sementara peti resonator baru mulai digunakan sejak kedatangan Pangeran Diponegoro di Minahasa pada tahun 1830.

Dahulu, kolintang hanya terdiri dari satu melodi yang terdiri dari susunan nada diatonis, dengan jarak nada dua oktaf. Sebagai pengiring, digunakan alat-alat musik bersenar seperti gitar, ukulele dan bas. Namun pada tahun 1954, kolintang sudah memiliki jarak nada dua setengah oktaf dan masih tetap memiliki susunan nada diatonis. Pada tahun 1960, berkembang lagi hingga mencapai tiga setengah oktaf dengan nada 1 kres, naturel, dan 1 mol. Dasar nadanya masih terbatas pada tiga kunci (naturel, 1 mol, dan 1 kruis), jarak nadanya berkembang lagi menjadi empat setengah oktaf dari F sampai dengan C.

Penanggung Jawab Ruang Musik : Bapak Kus Elmi

Senin, 23 November 2020

Seminar Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat


Senin, 23 November 2020, bertempat di Ruang Pustaka Utama Dinas perpustakaan dan Kearsipan Daerah, berlangsung kegiatan seminar Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat "Inovasi dan Kreatifitas Pustakawan Dalam Penguatan Indeks Literasi Masyarakat untuk mewujudkan SDM Unggul Menuju Indonesia Maju" Dengan Narasumber :
1. DRS. SYARIF BANDO, M.M, Kepala Perpustakaan Nasional
2. Dr. Ir. HETIFAH SJAIFUDIAN, MPP. Wakil Ketua Komisi X DPR RI 
3. Drs. Syafruddin Pernyata, M.Hum Ketua GPMB Provinsi Kaltim
3. Dra.Hj. E.Mustika Wati, M.M, Kabin Pengembangan Perpustakaan dan Pembudayaan Kegemaran Membaca DPDKD Provinsi Kaltim

Kegiatan ini dilaksanakan dengan protokol kesehatan yang ketat dan di diikuti oleh pustakawan, mahasiswa dan pegiat literasi.


Link Video Kegiatan terkait :  Seminar Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat Oleh DPDKD

Rabu, 18 November 2020

Sosialisasi Kelas Literasi dan Aplikasi iKaltim Bersama DPDKD Provinsi Kalimantan Timur


Rabu, 18 November 2020, SMP Fastabiqul Khairat mengadakan kegiatan Sosialisai Kelas Literasi dan Perpustakaan digital iKaltim, yang diselenggarakan secara Virtual. 

Kegiatan ini dihadiri oleh 272 Siswa(i) SM Fastbaiqul Khairat Samarinda, dari 280 siswa. Siswa yang tidak hadir sebanyak 8 orang diantaranya :

1. M. Raditya Shah Rajasa (7 Khawarizmi)
2. Syabila (7 Khawarizmi)
3. M. Alexander (7 Kindi)
4. Rafay (7 Jazari)
5. Clara (8 Thufail)
6. M. Zaky Al Banjari (8 Haitsam)
7. Faradiba (8 Haitsam)
8. Rasya Putra (8 Haitsam)

Jumat, 09 Oktober 2020

Penambahan Buku Ensiklopedi Dari bapak H. Ibnu Chottob

Alhamdulillah perpustakaan SMP Fastabiqul Khairat mendapat tambahan koleksi, sumbangan buku Encyclopedia International dari Ketua Harian Yayasan Fastabiqul Khairat Bp. H. Ibnu Chotob. sebanyak 20 eksemplar yang terdiri dari buku 1 s/d buku 20.

Selain menambah koleksi buku di perpustakaan insyaAllah juga menambah ilmu serta keberkahan untuk kita semua.


Salam Harmoni...!!!




Rabu, 07 Oktober 2020

Sape' (Alat Musik Tradisional Kalimantan)

Sumber : Kemdikbud RI

Sapek, adalah sejenis alat musik tradisional yang berasal dari Kalimantan Timur. Alat musik ini berfungsi sebagai alat upacara dan juga alat kesenian. Alat musik sapek merupakan salah satu jenis alat musik petik yang sangat terkenal pada masyarakat Dayak Kenyah di Kalimantan Timur. Pada awalnya sapek mempunyai dua dawai seperti sapek habae yang pernah ada di daerah hulu sungai Mahakam atau sambe dalam tradisi Suku Kenyah di Apokayan. Kemudian berkembang menjadi tiga dawai, bahkan belakangan ini justru ada yang menggunakan empat sampai lima dawai. Sapek biasanya dimainkan oleh seorang pria, sehingga jarang kita temukan pemain sapek wanita sampai saat ini. Bahkan menurut sebagian masyakarat beranggapan bahwa wanita yang memainkan sapek akan dikutuk dewa sehingga payudaranya akan memanjang atau akan menjadi lelaki. Hal tersebut juga terjadi pada beberapa Suku Dayak di daerah Serawak Malaysia, yang menyatakan bahwa seorang lelaki memiliki dua harta yang sangat berharga yaitu sapek dan penis. Hal ini kiranya memberikan gambaran bahwa alat musik Sapek hanya dimiliki oleh kaum lelaki. Para kaum wanita hanya boleh memainkan alat musik Sapek Leto. Di daerah lain seperti daerah Mentarang dan Apokayan menyebut sapek leto dengan nama lutung atau betung. Alat musik leto merupakan jenis alat musik petik tiga dawai yang terbuat dari tabung bamboo. Alat musik tersebut juga dikenal di daerah lain, seperti di Jawa dinamakan gumbeng. Namun demikian, sekarang ini jenis alat musik tersebut sudah jarang dijumpai lagi, baik di daerah Kalimantan maupun di Jawa.

Bahan pembuatannya terbuat dari kayu aro atau adau (cephalomappa), kayu marong dan kayu pelantan yang banyak ditemukan di daerah-daerah hutan di Kalimantan. Namun belakangan ini banyak jenis kayu lain yang dipakai untuk membuat sapek, seperti kayu nangka, sana keeling, pule dan lain sebagainya. Bahan kayu tersebut dipergunakan karena telah teruji kualitas keawetan, lebih ringan, tidak mudah patah dan memiliki kualitas akustik yang baik.